Kamis, 11 Februari 2016

Pelangi (Memberikan Keindahan namun Menyisakan Kehampaan)


Indah memang memiliki berbagai macam bentuk. Ia tak upaya seperti pelangi yang memiliki tujuh warna dengan setiap keistimewaannya. Mata yang memandang, hati yang merasakan, serta lidah yang berucap keluh tak segan-segan terus memuji kebesaran dan keagungan dari sang pencipta keindahan. Namun ini hanya sebuah hal kecil dari salah satu rangkaian cerita dalam hidupku yang kuumpakan ibarat melihat sebuah “pelangi”. Karena ia sama seperti pelangi, “tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi”. Ia datang dengan segala macam persiapan yang sangat memukau sehingga orang yang melihatpun merindukan kedatangannya kembali. Sebaliknya dikala ia pergi banyak orang merasa seperti “ahh, berakhir”, hanya itu yang terucap.
Dia yang tidak sengaja kujumpai di rumah Allah telah menjelma menjadi sosok yang terpatri kuat didalam hatiku dan sangat sakit apabila harus kulepaskan. Selepas dari sebuah pertemuan yang tidak sengaja itu, terpikir lah di otak ku bahwa Allah tak upa nya seperti “Surpriser”. Yup, sebuah istilah yang kusebut untuk seseorang yang suka untuk memberi kejutan kepada orang yang dikasihinya. Eiits, Allah bukan seseorang yah guys.
Setelah perjumpaan pertama itu aku kemudian bertanya pada temanku. “Eeeii, kenapa sih kalo kita ketemu orang-orang luar biasa itu selalu saja terjadi di rumah Allah?” Terus temanku  menjawab, “memang gik” sebuah jawaban simpel namun mengena banget. Terus dia jelasin esensinya, bahwa sebaik-baik pertemuan adalah pertemuan di masjid karena Allah langsung yang mempertemukan tanpa perantara orang lain. Yang jelas aku bahagia dong dibilang gitu, hehe.... Tapi kembali lagi ke pelangi tadi. Bahwa ia sama seperti pelangi yang tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Yup, singkat cerita aku dan dia menjadi lebih dekat, semakin dekat, dan sangat dekat. Tak terasa kami menjadi semakin jelas antara satu sama lain. Stop, bukan pacar yah yang aku katakan. Soo, jangan mikir kemana-mana dulu. Karena ini menceritaan tentang seseorang yang berharga dalam hidupku disini, jauh dari dekapan keluarga yang menyayangiku.
Namun seiring berjalan waktu aku sadar bahwa dia maupun aku pada akhirnya punya kehidupan masing-masing yang harus dijalani. Tak bisa terus bergantung menaruh harapan dalam kenyataan yang tak pasti, tak bisa terus berteduh dibawa pohon rindang saat hujan datang, tak bisa terus berlari memaksakan diri saat kaki-kaki ini sudah tak mampu lagi.
Yah, yang harus ku pahami bahwa Allah tak pernah menciptakan suatu pertemuan tanpa sebuah makna, namun ia membuat semuanya pasti karena sebuah alasan untuk sang tokoh yang mencari pemaknaan dalam hidupnya. Itulah esensinya sebuah pelangi. Memberikan keindahan namun menyisakan kehampaan.
Bagi sang pemandang yang full 100% menggunakan otak kiri, mungkin ia akan memandang pelangi hanya sebuah rekayasa percampuran dari butiran-butiran air berpadu dengan cahaya matahari. Namun lain hal nya dengan otak kanan yang penuh imajinasi. Ia memandang pelangi dalam ragam pemaknaan. Saya ambil salah satunya “pelangi itu merupakan semburan tinta yang meluap dari langit dan terhambur kemana-mana”. Wuy, ekstrem banget yah istilahnya.
Kembali ke dia yah guys, jangan salah fokus ke pelanginya. Sekarang aku dan dia masih menjalin komunikasi dengan baik. Secara perlahan aku ingin mencoba melepaskannya, namun hatiku telah nyata-nyata mengingkari. Yang bisa aku lakukan hanya membuat dia sendiri yang menetapkan pilihan tanpa aku harus terus mengekangnya dalam setiap langkahnya. Aku tau suatu saat dia akan pergi dengan sendirinya, dan saat itu terjadi yang bisa aku perbuat hanya menggerakkan jemariku untuk berkreasi menciptakan kenanganku dengannya, dan referensi memory yang tersimpan dalam otakku sebagai acuannya serta hati sebagai filternya untuk menuangkannya dalam tulisanku.
Aku yakin, dengan adanya tulisan ini Allah akan menjaga memory dan kenangan indahku bersama dia untuk selamanya. Karena selain hati dan otakku yang telah menyimpannya dalam-dalam memory tersebut, apa salahnya kalau aku menuliskannya sebagai story of live ku kedepannya kan. Kamu, yang telah datang ke kehidupanku secara tiba-tiba melalui perantara rumah Allah langsung dan juga tiba-tiba pergi membawa sebagian hatiku dalam ikatan ukhuwah persaudaraan, aku tak pernah menyesal apalagi harus menangis jika harus berpisah.
Secangkir coklat panas telah kusiapkan untuk kuseduh di depan pelataran rumahku sambil menikmati hujan rintik-rintik dan berharap timbul pelangi dikala hujan berhenti nantinya. Aku telah siap dengan selimut hangat dan membuka lembaran foto-foto kita untuk mengingat banyak memory berharga antara kita berdua dulu. Air mata ku pasti berlinang,itu bukan kesedihan yang aku refleksikan namun sebaliknya kebahagiaan yang aku sampaikan. Kamu yang nantinya berada jauh di negeri seberang dan aku juga berkelana melanjutkan perjalanan hidupku, hanya bisa melalui iringan doa, hembusan angin, dan ucapan basa-basi via media sosial sebagai pengobat rindu disaat fisik tak kunjung berjumpa namun hati menggebu ingin bertemu. 
Lama memandangi foto kita membuatku juga harus beranjak pergi dari tempat duduk dan segera bersiap untuk aktifitas seharian ini. Kau juga harus beraktifitas disana, jangan hanya sibuk dengan XY2, mix marketting, atau pun bussiness administration dalam benakmu. Buat juga dirimu nyaman dengan orang-orang disekitarmu dengan sikap santun mu. Barangkali kau bisa minimal menemukan orang  seperti aku disana yang kau anggap spesial dan berharga dalam hidupmu. Eeits, ngarep.

Datang dan pergi memang satu paket. Perjumpaan dan perpisahan tak beda hal nya, hanya menyisakan kenangan dan kerinduan. Untukmu yang akan pergi, ada hal yang ingin ku utarakan denganmu dari dulu. Bahwa “kau sangat berharga dihidupku” dan itu benar adanya.