Indah memang memiliki berbagai macam
bentuk. Ia tak upaya seperti pelangi yang memiliki tujuh warna dengan setiap
keistimewaannya. Mata yang memandang, hati yang merasakan, serta lidah yang
berucap keluh tak segan-segan terus memuji kebesaran dan keagungan dari sang
pencipta keindahan. Namun ini hanya sebuah hal kecil dari salah satu rangkaian
cerita dalam hidupku yang kuumpakan ibarat melihat sebuah “pelangi”. Karena ia
sama seperti pelangi, “tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi”. Ia datang dengan
segala macam persiapan yang sangat memukau sehingga orang yang melihatpun
merindukan kedatangannya kembali. Sebaliknya dikala ia pergi banyak orang
merasa seperti “ahh, berakhir”, hanya itu yang terucap.
Dia yang tidak sengaja kujumpai di rumah
Allah telah menjelma menjadi sosok yang terpatri kuat didalam hatiku dan sangat
sakit apabila harus kulepaskan. Selepas dari sebuah pertemuan yang tidak
sengaja itu, terpikir lah di otak ku bahwa Allah tak upa nya seperti
“Surpriser”. Yup, sebuah istilah yang kusebut untuk seseorang yang suka untuk
memberi kejutan kepada orang yang dikasihinya. Eiits, Allah bukan seseorang yah
guys.
Setelah perjumpaan pertama itu aku
kemudian bertanya pada temanku. “Eeeii, kenapa sih kalo kita ketemu orang-orang
luar biasa itu selalu saja terjadi di rumah Allah?” Terus temanku menjawab, “memang gik” sebuah jawaban simpel
namun mengena banget. Terus dia jelasin esensinya, bahwa sebaik-baik pertemuan
adalah pertemuan di masjid karena Allah langsung yang mempertemukan tanpa perantara
orang lain. Yang jelas aku bahagia dong dibilang gitu, hehe.... Tapi kembali
lagi ke pelangi tadi. Bahwa ia sama seperti pelangi yang tiba-tiba datang,
tiba-tiba pergi. Yup, singkat cerita aku dan dia menjadi lebih dekat, semakin
dekat, dan sangat dekat. Tak terasa kami menjadi semakin jelas antara satu sama
lain. Stop, bukan pacar yah yang aku katakan. Soo, jangan mikir kemana-mana
dulu. Karena ini menceritaan tentang seseorang yang berharga dalam hidupku
disini, jauh dari dekapan keluarga yang menyayangiku.
Namun seiring berjalan waktu aku sadar
bahwa dia maupun aku pada akhirnya punya kehidupan masing-masing yang harus
dijalani. Tak bisa terus bergantung menaruh harapan dalam kenyataan yang tak pasti,
tak bisa terus berteduh dibawa pohon rindang saat hujan datang, tak bisa terus
berlari memaksakan diri saat kaki-kaki ini sudah tak mampu lagi.
Yah, yang harus ku pahami bahwa Allah tak
pernah menciptakan suatu pertemuan tanpa sebuah makna, namun ia membuat
semuanya pasti karena sebuah alasan untuk sang tokoh yang mencari pemaknaan
dalam hidupnya. Itulah esensinya sebuah pelangi. Memberikan keindahan namun
menyisakan kehampaan.
Bagi sang pemandang yang full 100%
menggunakan otak kiri, mungkin ia akan memandang pelangi hanya sebuah rekayasa
percampuran dari butiran-butiran air berpadu dengan cahaya matahari. Namun lain
hal nya dengan otak kanan yang penuh imajinasi. Ia memandang pelangi dalam
ragam pemaknaan. Saya ambil salah satunya “pelangi itu merupakan semburan tinta
yang meluap dari langit dan terhambur kemana-mana”. Wuy, ekstrem banget yah
istilahnya.
Kembali ke dia yah guys, jangan salah
fokus ke pelanginya. Sekarang aku dan dia masih menjalin komunikasi dengan
baik. Secara perlahan aku ingin mencoba melepaskannya, namun hatiku telah
nyata-nyata mengingkari. Yang bisa aku lakukan hanya membuat dia sendiri yang
menetapkan pilihan tanpa aku harus terus mengekangnya dalam setiap langkahnya.
Aku tau suatu saat dia akan pergi dengan sendirinya, dan saat itu terjadi yang
bisa aku perbuat hanya menggerakkan jemariku untuk berkreasi menciptakan
kenanganku dengannya, dan referensi memory yang tersimpan dalam otakku sebagai
acuannya serta hati sebagai filternya untuk menuangkannya dalam tulisanku.
Aku yakin, dengan adanya tulisan ini Allah
akan menjaga memory dan kenangan indahku bersama dia untuk selamanya. Karena
selain hati dan otakku yang telah menyimpannya dalam-dalam memory tersebut, apa
salahnya kalau aku menuliskannya sebagai story of live ku kedepannya kan. Kamu,
yang telah datang ke kehidupanku secara tiba-tiba melalui perantara rumah Allah
langsung dan juga tiba-tiba pergi membawa sebagian hatiku dalam ikatan ukhuwah
persaudaraan, aku tak pernah menyesal apalagi harus menangis jika harus berpisah.
Secangkir coklat panas telah kusiapkan
untuk kuseduh di depan pelataran rumahku sambil menikmati hujan rintik-rintik
dan berharap timbul pelangi dikala hujan berhenti nantinya. Aku telah siap
dengan selimut hangat dan membuka lembaran foto-foto kita untuk mengingat
banyak memory berharga antara kita berdua dulu. Air mata ku pasti berlinang,itu
bukan kesedihan yang aku refleksikan namun sebaliknya kebahagiaan yang aku
sampaikan. Kamu yang nantinya berada jauh di negeri seberang dan aku juga
berkelana melanjutkan perjalanan hidupku, hanya bisa melalui iringan doa,
hembusan angin, dan ucapan basa-basi via media sosial sebagai pengobat rindu
disaat fisik tak kunjung berjumpa namun hati menggebu ingin bertemu.
Lama memandangi foto kita membuatku juga
harus beranjak pergi dari tempat duduk dan segera bersiap untuk aktifitas
seharian ini. Kau juga harus beraktifitas disana, jangan hanya sibuk dengan XY2,
mix marketting, atau pun bussiness administration dalam benakmu. Buat juga
dirimu nyaman dengan orang-orang disekitarmu dengan sikap santun mu. Barangkali
kau bisa minimal menemukan orang seperti
aku disana yang kau anggap spesial dan berharga dalam hidupmu. Eeits, ngarep.
Datang dan pergi memang satu paket.
Perjumpaan dan perpisahan tak beda hal nya, hanya menyisakan kenangan dan
kerinduan. Untukmu yang akan pergi, ada hal yang ingin ku utarakan denganmu
dari dulu. Bahwa “kau sangat berharga dihidupku” dan itu benar adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar